Masa Orientasi Siswa

Januari 12, 2011 Tinggalkan komentar

Bicara soal masa orientasi siswa, sapa sih yang kaga tau? Xixixi.. Kayaknya temen-temen semua pada dateng yah waktu MOS. Hope so

Masa Orientasi SiswaMasa Orientasi Siswa 

Kalo Helda, seumur hidup, cuma sekali ngikutin MOS. Hiks. Pas SMP ajah. SMA-nya kaga, karena telat sebulan masuk sekolah. *Koq bisa??? Wkekeke*. Secara Helda ituh orangnya agak-agak ngga suka dengan suasana yang bener-bener baru, kurang bisa beradaptasi bisa dikata. Dulunya, Helda ngga gitu tertarik dengan yang namanya MOS. Asli, Helda adalah salah satu siswa yang biasa-biasa ajah (pada pandangan pertama), ngga aktif daann sebagaiiinyaaa..

[-(

Walau begitu, di postingan blog remaja tentang Masa Orientasi Siswa inih, Helda senang berbagi manfaat versi Helda dari MOS. Iyaahh.. Helda nyesel deh dulu meng-underestimate-kan MOS. Haluuu, Kakak-kakak kelas Helda, maap yaa.. :P

:bz

  • Ajangnya dapetin temen baru

Iya doong.. MOS adalah waktu yang tepat! Ada banyak games, challenge, dan kegiatan yang mengharuskan kita ‘bersosialisasi’. Trus, lebih leluasa lagii. Coba kalo udah masuk sekolah, udah belajar, waahh… Udah telat dee.. Temen-temen laen dah punya gengnya masing-masing tuh. ;p

  • Kenal sama kakak kelas

Pastilah.. Bisa aja mereka agak-agak sangar pas MOS. Ya gpp de.. Tapi, ntar jadi lebih nyaman koq ke sekolah. Kalo masuk sekolah, ada yang bisa kita sapa dan senyumin kan. Jadi junior yang baek nih ceritanya. Tau ajah dan hapal nama kakak kelas, bangga lho!

  • Latihan mental

Dikerjai waktu MOS. Menurut Helda, ituh hak istimewa banget. Dulu Helda ngga berharap buat dipanggil untuk satu tantangan. Sekarang Helda nyeseell… Biar malu, tapi menyenangkan koq, sekalian buat latihan mental untuk ‘tampil ke depan’. Jadi, keinget sama temen Helda, dia kaga malu tuh untuk tampil bodoh dan jadi bahan tertawaan. Pe-de banget dah orangnya. Dia pun punya banyak temen!

  • Beradaptasi

Sesuai tujuan MOS ituh sendiri. Pembiasaan dan pengenalan kepada sekolah baru. Kayak yang udah Helda sebutin, di poin-poin sebelumnya, ituh waktu yang tepat banget! Ntar kalo udah masuk sekolah ‘normal’-nya, ngga canggung lagi kan? Udah pada tau seluk-beluk sekolah barunya.

:)>-

So, jangan diem-diem aja pas MOS yahh.. Hayuuk, jadi siswa-siswa yang kreatif dan aktif! Anyway, manfaat versi kamuh gimanah?

Yang Nyangkut dari Mesin Pencari:

masa orientasi siswacerita hot remajamasa orientasi sekolahorientasicerita hot remaja smasiswaCerita hot di sekolahcerita ml barumasa orentasi siswicerita ml dengan teman baru

Tidak ada Postingan Terkait.

Blog Remaja— Sekolah & Karir— Masa Orientasi Siswa
Tags: helda,  manfaat masa orientasi siswa,  manfaat mos,  masa orientasi sekolah,  masa orientasi sekolah sma,  masa orientasi siswa,  mos sma,  mos smp,  permainan mos,

Kategori:PSIKOLOGI

STUDY ANALISIS DI BALIK PERKEMBANGAN PSIKOLOGI REMAJA

Januari 12, 2011 Tinggalkan komentar

Mungkin fakta bahwa saya seorang imigran di Amerika Serikat membuat saya merasakan bahwa permasalahan identitas menduduki tempat utama dalam semua gangguan yang kita hadapi masa kini, mereka, para imigran pertama-tama melepaskan segala identitas nasional yang lama pada skala sangat besar untuk dapat memperoleh satu negara baru.
Kata seorang psikonalis Erik H. Erikson, oleh masyarakat Amerika memberinya julukan “Guru Masa Kini”. Bertolak dari uraian diatas bahwa. Konsep identitas dalam psikologi umumnya menunjuk kepada satu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi yang pada dasarnya tidak pernah terpisahkan meskipun terjadi perubahan-perubahan selama fase perkembangan hidup.
Orang yang dalam proses mencari identitas adalah orang yang ingin menentukan siapa dan bagaimana dia pada saat sekarang ini dan siapa atau apakah yang dia inginkan pada masa mendatang.
Jika ungkapan tersebut muncul pada diri seseorang baru pada saat itu manusia memperoleh suatu pandangan jelas tentang diri, tidak meragukan tentang identitas batinnya sendiri serta mengenal peraya dalam masyarakat, tetapi ini baru mungkin apabila ia sadar akan kelemahan dan kelebihan yang dia miliki seperti kesukaannya dan ketidak sukaannya, aspirasinya, tujuan masa depan yang di antisipasi dan perasaan bahwa dia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya sendiri.
Pemuda sebagai Embrio Regenerasi suatu bangsa memiliki masa adelonsia dimana pemuda untuk pertama kali secara diminitif harus menentukan siapakah dan apakah dia ketika itu dan ingin menjadi siapa dan apa dia di masa depan, (Masa Adelonsia yang sangat kental terhadap “Krisis Identitas”).
Identitas memiliki identifikasi sebagai suatu kesadaran yang dipertajam dan sebagai suatu kesatuan unik yang menjaga kesinambungan arti penjelasan di masa lampau bagi dirinya sendiri dengan orang lain. Menurut De Levita Aspek-aspek Identifikasi Identitas adalah :
– Identitas sebagai intisari seluruh kepribadian yang tetap tinggal sama walaupun berubah ketika menjadi tua serta dalam dunia sekitar.
– Identitas sebagai keserasian peran sosial yang pada prinsipnya dapat berubah dan berubah-ubah.
– Identitas sebagai “bagai hidupku sendiri” yang berkembang dalam tahap-tahap terdahulu dan menentukan bagaimana peran sosial itu dapat terwujud.
– Identitas sebagai suatu yang khas pada tahap Adelonsasi yang dapat berubah dan dipahami setelah setiap Adelonsasi.
– Identitas sebagai pengalaman subyektif.
– Identitas sebagai kesinambungan diri sendiri dengan orang lain.
Proses terjadinya identitas dapat diungkapkan juga secara abstrak. Identitas ialah suatu proses restrukturisasi segala identifikasi dan pengalaman terdahulu, seluruh identitas fragmeter baik dan buruk, atau positif negatif diolah dalam perspektif suatu masa depan yang diartisipasi, manusia merupakan identitasnya, apabila dia dapat menggabungkan pengalaman-pengalaman tersebut menjadi tatanan baru yang positif.
Tahap khas dari krisis identitas sebenarnya adalah masa Adelonsia, yaitu saat pemuda mencoba-coba dengan berbagai macam konfigurasi dari identitas positif dan negatif seperti mencoba mode berpakaian, mengikuti peran aktor atau artis yang disenangi untuk akhirnya menetapkan mana yang cocok. Karena masa Adelonsia adalah masa peralihan di finitif dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pendapat Eriksen tentang pembentukan identitas adalah : akhirnya pembentukan identitas pada saat identifikasi tidak dapat …… 187.
Dengan demikian penentuan identitas sesungguhnya baru bermula pada masa Adolensasi. Namun hal itu belum bisa menjadi patokan karena masih bersifat dinamis, selalu berkembang dan senantiasa berubah-ubah sepanjang hidup individu. Erikson juga berpendapat bahwa identitas pada hakikatnya bersifat “psikososial” karena pembentukan identitas memiliki hubungan timbal balik pada diri sendiri ditengah-tengah masyarakat. Freud berpendapat identitas adalah rasa kerasan, suatu konstruksi pada diri sendiri, yang mengikat individu itu pada anggota rasnya dan kelompoknya.
Jadi masalah identitas ialah masalah bagaimana suatu kesinambungan ditentukan antara masa lampau dan masa depan masyarakat, dimana identitas pemuda sebagai transformator kritis dari kedua masa sosial tadi. Identitasnya yang unik dalam diri sendiri, tetapi dia juga ingin tahu jenis manusia apakah dia, seorang Jerman, Amerika, atau Indonesia orang hitam atau putih, seorang pegawai, petani, pelajar atau seorang Maha guru dan sebagainya.
Sebagaimana telah dikatakan, tahap yang menentukan pembentukan identitas adalah masa adolesensi yang di mulai pada umur 13 atau 14 tahun. Dalam masa remaja ini muncullah suatu “krisis identitas”, yang berakhir entah dengan membawa suatu pembentukan identitas “Ego” yang mantap atau menghasilkan “rasa kehilangan diri” yang agak patologis. Erikson menyebut tahap ini suatu “krisis identitas”, karena di sini kegagalan sementara berfungsi untuk menetapkan suatu identitas stabil. Bahaya kebingungan peran sosial harus diatasi, sehingga akhirnya dapat terjadi suatu perubahan perspektif radikal. Dalam krisis ini segala mekanisme psikososial dari identitas berlawanan, sehingga terjadi kekacauan peran yang menjadi bahaya khas periode ini dan menjadi masalah pokok yang dihadapi pemuda. Krisis yang paling berat dan paling berbahaya, karena penyelesaian yang gagal atau berhasil dari krisis identitas itu mempunyai akibat jauh untuk seluruh masa depan dari Ego dewasa, bahkan dari generasi-generasi anak yang berikut. Baru sesudah masa adolesensi yang harus memantapkan suatu identitas kuat, kita dapat berbicara tentang suatu Ego dewasa yang matang. Tanpa penetapan suatu identitas yang terintegrasi baik (tentu sebagai suatu kompromi yang relatif bebas konflik) manusia selama masa dewasanya akan mengalami kesulitan terus-menerus dan tetap akan dibebani dengan berbagai macam konflik yang mengacaukan dan membingungkan.
Erikson menguraikan masa adolesensi sebagai “periode lingkaran hidup di mana setiap pemuda harus menciptakan untuk dirinya sendiri suatu perspektif dan orientasi sentral, suatu kesatuan psikososial yang berfungsi baik dengan mengolah pengaruh sisa-sisa masa kanak-kanaknya dan harapan-harapan masa dewasa yang diantisipasinya ; dia harus menemukan suatu kesamaan yang berarti antara apa yang dapat dia lihat dalam dirinya sendiri dan bagaimana menurut kesadarannya yang lebih tajam orang lain menilainya dan mengharapkan dari padanya (young man Luther, halaman 12). Adolesensi merupakan tahap terakhir dari tahap masa kanak-kanak namun proses adolensensi itu baru betul-betul berakhir apabila individu menempatkan segala identifikasi yang baru, yang tercapai dalam kebersamaan yang amat mengasyikkan serta dalam masa belajar suatu keahlian yang berciri bersaing bersama dengan dan di tengah-tengah teman-teman sebaya. Maka periode adolesensi adalah masa di mana individu sangat terlibat dalam proses menentukan diri (yang sering diiringi dengan rasa takut dan ketegangan yang meningkat), di mana segala sasaran pribadi, tujuan sosial dan cita-cita antar pribadi harus diuji kembali dan diubah. Makna dari periode adolesensi ini terdapat dalam pergumulan keras untuk merebut identitasnya sendiri, yang sebenarnya tidak lain daripada usaha menyiapkan diri untuk kehidupan sebagai orang dewasa di mana si remaja harus mencari tempatnya sendiri yang dapat diakui oleh seluruh masyarakat.
Benar bahwa krisis adolesensi merupakan peralihan yang amat sukar dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Sesudah orang berhasil dengan mudah untuk mensintesiskan segala pengalaman dan reaksi dari setiap tahap masa kanak terdahulu, maka dia harus meninggalkan masa kanak-kanak itu dan memilih satu tempat dalam dunai orang dewasa. Hal ini mengandaikan suatu kepekaan khusus pada perubahan sosial dan historis. Periode yang sulit dapat dicirikan sebagai berikut :
“Itulah periode kemurungan serta perasaan halus; periode dari pikiran gelisah dan badan lesu; masa rasa berambisi serta keinginan kuat untuk menjelajah dan mengenal segala kemungkinan, namun juga masa untuk bermuram terus-menerus dan berkeliaran; masa kebimbangan tak terduga antara keduniawian yang berlebihan dan kenaifan luas biasa; masa antara usaha menjadi lebih dewasa daripada orang dewasa sendiri lalu menjadi lebih bersifat kekanak-kanakan daripada anak-anak. Dan terutama, periode adolesensi ini adalah masa krisis penuh ketidak pastian apabila pemuda harus melibatkan diri (biasanya sesudah sekian banyak mengalami kegelisahan pada mulanya) dalam satu penentuan diri yang akan diakui oleh diri sendiri dan orang lain (L.W. Pye, dalam Psychoanalysis and History, halaman 158).
Apabila krisis identitas dilalui secara normal, timbul suatu identitas yang terintegrasi, koheren, dan jelas. Tentu identitas ini yang kebanyakan menjadi bagian terbesarnya positif, meskipun disertai pula oleh sisi gelapnya yakni “identitas negatif”. Bagaimanapun kebingungan identitas ini mengakibatkan suasana ketakutan, ketidak pastian, ketegangan, isolasi, dan ketaksanggupan mengambil keputusan. “keadaan ini dapat menyebabkan si pemuda merasa terisolasi, kosong, cemas dan bimbang. Pemuda merasa bahwa dia harus mengambil keputusan penting, namun dia tidak sanggup berbuat demikian. adolesen dapat merasa bahwa masyarakat memaksa dia untuk mengambil keputusan, maka dia menjadi lebih bersifat menentang lagi. Para adolesen ini sangat prihatin pada masalah bagaimana orang-orang lain melihat mereka, dan mereka cenderung memamerkan keyakinan diri yang cukup tinggi dan memperlihatkan keadaan-keadaan maju pemunduran yang sewaktu-waktu terjadi ke arah keadaan infantil ternyata menjadi suatu alternatif yang baik bagi keterlibatan ruwet yang diharuskan darinya dalam satu masyarakat dewasa. Tingkah laku si remaja amat tidak konsisten dan tidak dapat diramalkan selama dalam keadaan kacau-balau itu. Pada suatu ketika dia merasa berat untuk melibatkan diri dalam pergaulan dengan satu orang pun karena dia merasa takut ditolak, dikecewakan, atau disesatkan. Tetapi pada saat lain, dia ingin menjadi seorang pengikut, pencinta, atau murid bagaimanapun akibat-akibat dari keterlibatan semacam itu” (C.S. Hall/G. Lindzey, Theories of Personality, halaman 96).
Tempat kritis khas dari masa adolesensi dalam keseluruhan lingkaran hidup ditunjukkan secara tepat oleh istilah “moratorium psikososial”. Setiap masyarakat mengizinkan suatu periode “kosong” antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang resmi pada para adolesensinya :
“Suatu jangka waktu yang sesudahnya mereka bukan lagi anak-anak, tetapi sebelum perbuatan dan pekerjaan mereka dihitung sebagai sesuatu yang mengantar kepada identitas masa depannya” (Young Man Luther, halaman 43).
Jadi bahaya pada Fase Adelonsia yakni “Krisis Identitas” meliputi :
1. Kesadaran identitas atau kepastian diri ekstrem, yang dialami pemuda yang masih meraba-raba dan berusaha menemukan diri yang mantap, supaya dia dapat mengimbangi dan menyembunyikan ketakpasitan diri yang amat mendalam. Hal itu menjadi nyata dalam sifat malu-malu atau justru dalam sifat tak tahu malu pada pemuda.
2. Identitas negatif merupakan suatu ringkasan yang memuat semua hal yang termasuk kelompok identifikasi negatif atau segala hal yang anda tidak ingin menyerupai. Identitas negatif ini terdiri dari, misalnya, badan yang diperkosa atau dikebiri, kelompok etnis yang ditolak, minoritas yang diperas, dan sebagainya.
3. Kekacauan perspektif waktu yang disebabkan oleh kehilangan fungsi Ego, yang membeda-bedakan berbagai perspektif waktu dan memungkinkan harapan masa depan.
4. Pelumpuhan kerja atau gangguan kesanggupan berprestasi yang nampak entah dalam ketaksanggupan total untuk memusatkan perhatian pada kerja apa pun saja, atau dalam keasyikan melulu dengan hal yang selalu sama.
5. Kebingungan identitas dan kekacauan peran seperti yang telah saya bicarakan/singgung tadi.
6. Kebingungan biseksual yang merupakan ketakpasitan yang sangat mendalam dari pemuda yang tidak merasa diri jelas termasuk dalam kelompok jenis kelamin tertentu. Kebingungan seksualitas ganda ini gampang membawa pemuda kepada homoseksualitas atau juga penolakan keras terhadap segala seksualitas.
7. Kebingungan kewibawaan yang merupakan rasa tak sanggup untuk menaati atau memberi perintah begitu saja. Setiap situasi persaingan atau struktur hierarkis dalam hal kekuasaan atau kewibawaan menyebabkan orang itu menjadi panik.
8. Kekacauan ideologis yang akan terjadi pada seorang pemuda yang tidak dapat memilih dengan tegas suatu ideologi atau agama tertentu.

Dari Analisis Tersebut,
Perlulah kiranya memahami psikologi remaja yang sangat rentan terhadap “krisis identitas” guna menanggulangi kenakalan remaja, bisa jadi kondisi saat ini dimana kenakalan remaja saat diatasi disebabkan kita kurang memahami perkembangan psikologi pada remaja.

Kategori:PSIKOLOGI

Tips Belajar untuk Ujian Semester

Januari 12, 2011 Tinggalkan komentar

Secara udah mau ujian semesteran yah buat anak-anak sekolah (kasih tau dong ujiannya kapan niy. ^^ ), Helda pengen sharing tips buat adik-adik – tips dan cara belajar agar lulus ujian semesteran. *Berasa kakak ya ;p* Yang  pasti dan yang terutama adalah belajarlah mulai dari adik-adik selesai baca postingan ini!

;)

Actually, menurut Helda, secara garis besar cara belajar untuk persiapan ujian ituh ada tiga cara, khususnya untuk pelajaran menghafal.

ujianujian 

  • Dihafal Dulu Baru Dibaca-baca Lagi

Beberapa waktu sebelum ujian yang  udah kita tetapin, kita gunakan untuk menghafal [mati]. Nah, ketika ujiannya udah mau tiba, misal semalem sebelum ujian, kita hanya tinggal baca-baca dan mempertajam saja.

Tipe inih cocok untuk mereka yang punya ingatannya [khususnya untuk hafal-hafalan] bisa bertahan lama. Biasanya sih mereka text-book banget dah ntar jawabannya. Wuih!

:-o

  • Dibaca-baca Dulu Baru Dihafal

Beberapa waktu sebelum ujian yang udah kita tetapin, kita gunakan untuk baca-baca ajah. Nah, pada waktu ujian udah mau tiba, misal semalem sebelum ujian, baru dah dihafal [mati]. Tipe inih cocok untuk mereka yang punya ingatan yang ngga bisa bertahan lama.

Helda sendiri termasuk tipe yang kedua ini nih. Helda ngga bisa menghafal dan mengingatnya untuk waktu yang lama. Makanya, Helda lebih memilih untuk baca-baca aja, lebih memilih untuk mengerti garis besarnya dulu. Setelah ituh, baru dah Helda embat buat menghafal. Dari pengalaman Helda nih ye sebagai tipe yang kedua inih – Helda menjadi orang yang ngga ‘text-book’.

;))

  • Dihafal – Dibaca-baca – Dihafal

Ini nih tipe orang paling rajin. Hehehe. Pada waktu yang udah ditetapin, dia bakal menghafal [mati]. Waktu dia lagi nyantai atau ngga ada kerjaan atau lagi di jalan dan sebagainya – dia bakal pake buat baca-baca sekadar memperkuat ingatan. Ketika ujian udah mau tiba, misal semalem sebelum ujian, dia gunain lagi buat hafal ulang. Mantep dah!

Tergantung kamu sih maunya gimana dan coba perhatiin kamu ituh termasuk tipe yang mana.Just for info, menurut Helda, ujian semester ituh ngga susah koq, ngga kaya’ ujian nasional. *Ya iyalah* Yang pasti, jangan sampe’ ngga belajar yah..!

;)

Yang Nyangkut dari Mesin Pencari:

cara persiapan ujian semesterTips ujian semestercara belajar sebelum ujian nasionaltips ujian sekolahtips cara belajar unUJIANujian semesterujian semester smptips buat anak sekolahtips belajar sebelum ujian

Postingan Terkait:

  1. Cara Belajar Agar Lulus UN
    Beberapa waktu lalu, saya pernah posting mengenai “Budaya Instan Lulus…
  2. Yakin, Udah Siap Untuk Pacaran?
    Ngeliat sepasang cowok-cewek jalan berdua, pegangan tangan dan bercanda-tawa riang…
  3. Prediksi Medan UN Sesungguhnya!
    Wah ngga terasa UN alias Ujian Nasional bentar lagi yah….
  4. Kerja Part Time untuk Pelajar! Kenapa Ngga’?
    Ntah karena terlalu produkif dan kreatif, kerja part-time emang jadi…
  5. Budaya Instan Lulus Ujian Nasional
    Dulu waktu Idol-idol-an itu sedang merebak, pembahasan mengenai yang instan-instan…

Blog Remaja— Sekolah & Karir— Tips Belajar untuk Ujian Semester
Tags: ajah,  baca,  bakal,  cara belajar,  cara lulus ujian,  cara menghafal pelajaran,  cocokhelda,  ingatan,  kakak,  kasih,  kerjaan,  lulus,  misal,  mulai,  ntar,  pengalaman,  sih,  tau dong,  tiba,  tipe,  tips lulus ujian,  udah,  ujian semester,  ujian semester sma,  ujian semester smp,

Kategori:PSIKOLOGI

Kenakalan Remaja

Januari 12, 2011 Tinggalkan komentar

Setelah kita kemarin cerita soal pelecehan seksual terhadap remaja, ngga ada salahnya kalo kita memundurkan pembicaraan – kenakalan remaja. Yang pasti yang satu ini worth it banget buat dibahas, gila aja makin hari makin marak perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja!

Ada tawuran, ngelakuin seks bebas, narkotika, alkohol dan sebagainya. Oke, Helda udah nyebutin frasa kenakalan remaja satu kali, sebenarnya apa sih kenakalan remaja itu? Apa cuma nakal-nakal, sedikit nakal atau kenakalan (baca: terlalu nakal)?

Kata pakar-pakarnya nih, kenakalan remaja itu bisa didefinisikan sebagai perilaku menyimpang atau tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal. (Kartono, 2003).

Apa kenakalan remaja itu hanya mencakup tindakan-tindakan yang akan membawa kita ke dalam bui, Helda? Jawabannya tidak!

Silahkan perhatikan definisi kenakalan remaja yang sudah disebutkan di atas tadi. Sekarang…Kenapa seorang remaja bisa terjun ke dunia “kenakalan remaja” dan bagaimana kita sebagai remaja bisa menghadapinya? Berikut penjelasannya, tentunya berdasarkan perspektif seorang remaja.

;)

Balik ke definisi awal kenakalan remaja – suatu tindakan menyimpang/tidak dapat diterima sosial. Nah, pertanyaannya: kenapa remaja melakukan pemberontakan? Ada 3 hal yang berperan penting dalam hal ini, yaitu:

1. Keluarga

Yang paling rentan ini nih (walau di poin ketiga yang akan dibahas berikut adalah kuncinya)! Kenapa ngga? Gimana jadinya anak atau remaja di masa depan, ditentukan oleh cara didik orang tua. Nah, cara mendidik ini yang menjadi satu hal yang masih dipertanyakan, sebenarnya gimana sih? Helda aja masih bingung, hehe, ya iya lah. Tapi, satu hal yang perlu diingat adalah: seimbang. Otoriter atau istilah lebih halusnya tegas, permisif serta demokratisnya haruslah sesuai kadar.

Ketika orang tua otoriter, maka yang kita sebut sebagai kenakalan remaja akan muncul dalam artian ingin memberontak. Sementara kalo ortu permisif, remaja malah akan mencari-cari perhatian dengan segala tingkah lakunya yang kemungkinan besar menjurus ke kenakalan remaja. Bahkan orang tua yang demokratis sekalipun, Helda saja sebagai remaja ngga bisa menjamin akan menggunakan kebebasan namun bertanggung jawab dari paham demokratis ini. Karena…

:-?

2. Pergaulan

Yup! Pergaulan remaja. Tekanan teman bahkan sahabat, apakah itu yang namanya rasa solidaritas, ingin diterima, dan sebagai pelarian, benar-benar ampuh untuk mencuatkan kenakalan remaja yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja.

Kalo di dalam keluarga, remaja memberontak atau mencari perhatian yang menjurus ke tindakan kenakalan remaja demi orang tua. Nah ini, malah ke kebutuhan yang lain! Yup! Teman, sabahat dan diterima dalam pergaulan yang merupakan suatu kebutuhan.

3. Remaja Itu Sendiri

Pada hakikatnya apa yang dilakuin oleh seorang remaja ketika mencoba menarik perhatian dari ortu terlebih lagi teman, adalah untuk memuaskan diri remaja itu sendiri. Memuaskan di sini bukan hanya dalam arti negatif aja yah. Namun, demi memuaskan obsesinya itu – sering malah ‘keterlaluan’ dan ‘berlebihan’!

Bukankah apa pun yang terjadi kalo memang remaja tersebut punya ‘hati yang besar’ menyadari bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan‘perhatian itu’, pasti dia bisa untuk tidak terperosok ke dalam jurang kenakalan remaja.

*Nih Helda koq ngga memihak para remaja yah?

:D

Postingan ini hanyalah pelengkap untuk postingan berikutnya. Tadi kan kita sudah bahas mengenai kenakalan remaja, yang udah disebutin bahwa keluarga itu berperan penting. Helda pikir rata-rata remaja sekarang hidup dalam keluarga berantakan atau broken home, orang tuanya sering bertengkar, dan bahkan bercerai. Masih ingat dengan artikel blog remaja “Penyebab Kasus Perceraian Keluarga“? Karena itu, Helda bakal menyajikan postingan berseri (kayak masakan aja yah):

  • Ortu Sering Bertengkar, Bagaimana Remaja Bersikap?
  • Orang Tua Bercerai
  • Aku Bangga Jadi Remaja dari Keluarga Broken Home!
  • dll

Semoga artikel kenakalan remaja ini dan artikel-artikel berseri dari blog remaja yang dijanjikan bisa membuat para remaja menghadapi dan melawan tindakan menyimpang yang ngga ada gunanya…

;)

Yang Nyangkut dari Mesin Pencari:

kenakalan remajamakalah kenakalan remajaartikel kenakalan remajapenyebab kenakalan remajaPsikologi Remajamakalah tentang kenakalan remajakenakaln remajaFaktor Kenakalan Remajakasus kenakalan remajaartikel tentang kenakalan remaja

Postingan Terkait:

  1. Kenapa Aku Selalu Kekurangan Duit???
    Awal bulan, pastinya kantong masih full! Hihi. Btw, masih bertahan…
  2. Pelecehan Seksual Terhadap Gadis Remaja
    Pelecehan seksual terhadap remaja, sebenarnya apa aja sih yang termasuk…
  3. Remaja Produktif – Remaja dengan Segudang Aktivitas?
    Remaja sekolah produktif – yang ada dalam benak saya sewaktu…
  4. Pengendalian Diri oleh Remaja
    Ketua DPRD Sumut Tewas dalam Demo Anarkis, Diduga Karena Dikeroyok…
  5. Pengaruh Musik Terhadap Kecerdasan Emosional Remaja
    Kaga’ bisa hidup tanpa musik? Sah-sah saja sih. Ya, walaupun…

Blog Remaja— Psikologi Remaja— Kenakalan Remaja
Tags: awal,  bisa,  blog remaja,  broken home,  didik,  frasa,  helda,  kalo,  kasus perceraianKeluarga,  Kenakalan Remaja,  marak,  nakal,  narkotika,  penyebab kenakalan remajaPergaulan Remaja,  perilaku menyimpang,  perspektif,  poin,  remaja,  Remaja Hadapi Kenakalan Remaja,  seks bebas,  sih,  tadi,  tawuran,  tindakan kenakalan remaja,  udah,

Kategori:PSIKOLOGI

Kekerasan dalam Pacaran (KDP)

Januari 12, 2011 Tinggalkan komentar

 

Pacaran adalah hubungan antara pria dan wanita yang diwarnai keintiman dimana satu sama lain terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangannya sebagai pacar. Melalui berpacaran seseorang akan mempelajari mengenai perasaan emosional tentang kehangatan, kedekatan dan berbagi dalam hubungan dengan orang lain. Salah satu tugas perkembangan dewasa muda adalah berkisar pada pembinaan hubungan intim dengan orang lain.

Namun pada kenyataannya, seringkali terjadi bahwa pacaran yang dilakukan remaja dapat menjurus kepada hal-hal yang negatif, misalnya pacaran diiringi dengan perilaku seksual pranikah, kekerasan dalam berpacaran, bahkan tidak jarang terjadi kasus-kasus pembunuhan, perkosaan hingga maraknya kasus-kasus hubungan seksualyang direkam melalui handphone. Salah satu fenomena yang saat ini semakin banyak muncul pada hubungan berpacaran adalah kekerasan dalam pacaran (KDP).

Berbagi

 

Kategori:PSIKOLOGI

Penyesuaian Diri Pada Remaja

Januari 12, 2011 Tinggalkan komentar
Pemahaman penyesuaian diri pada remaja sangat penting dipahami oleh setiap remaja karena masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Setiap individu mengalami perubahan baik fisik maupun psikologis. Maka dari itu situs belajar psikologi ini memberikan sedikit pemahaman tentang penyesuaian diri pada remaja.
Seorang ahli bernama Schneiders ( Gunarso, 1989 ) mengemukakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses mental dan tingkah laku yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri sesuai dengan keinginan yang berasal dari dalam diri sendiri dan dapat diterima oleh lingkungannya.Lebih jauh ia memberi pengertian bahwa penyesuaian diri itu baik atau buruk selalu melibatkan proses mental dan respon tingkah laku. Penyesuaian diri merupakan usaha-usaha individu untuk mengatasi kebutuhan dari dalam diri, ketegangan, frustasi, dan konflik serta untuk menciptakan keharmonisan atas tuntutan-tuntutan dalam dunia sekitar.
Menurut Daradjat (1972) penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamika yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku agar terjadi hubungan yang selaras antara dirinya dan lingkungannya. Dikatakan bahwa penyesuaian diri mempunyai dua aspek, yaitu penyesuaian diri pribadi dan penyesuaian diri sosial. Penyesuaian diri pribadi adalah penyesuaian individu terhadap dirinya sendiri dan percaya pada diri sendiri. Sedangakan penyesuaian sosial merupakan suatu proses yang terjadi dalam lingkungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengannya.
Geringan (1986) mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah mengubah diri sendiri dengan keadaan lingkungan dan juga mengubah lingkungan sesuai dengan keinginannya, Tentu saja hal ini tidak menimbulkan koflik bagi diri sendiri dan tidak melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Menurut Hillgard (dalam Damayanti, 2002), individu mengadakan penyesuaian diri untuk menghilangkan konflik dan melepaskan rasa ketidak enakan dalam dirinya. Menurut Gunarso (1995) penyesuaian diri sebaiknya menjadi dasar dari pembetukan hidup dengan pola-pola yang berintegrasi tanpa tekanan emosi yang berarti. Katono (1980) mengartikan penyesuaian diri sebagi usaha untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungan sehingga rasa bermusuhan, dengki, iri hati, pasangka, kecemasan, kemarahan sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dengannya terkikis habis.
Penyesuaian diri merupakan faktor yang penting dalam kehidupan seseorang. Setiap saat seseorang mempunyai kebutuhan penyesuaian diri, baik dengan dirinya sendiri antara kebutuhan jasmani dan rohani, maupun kebutuhan luarnya yaitu kebutuhan sosial. (Prastyawati, 1999).
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri merupakan usaha individu untuk menyelaraskan kebutuhan dalam diri sendiri maupun dengan situasi diluar dirinya guna mendapatkan hubungan yang lebih baik serasi antara diri dan lingkungan yang dihadapinya.
Pada masa penyesuaian diri ini peran orang tua dan lingkungan sangat berpengaruh dalam mencapai keberhasilan dalam melakukan penyesuaian diri untuk membangun jati diri yang baik. Orang tua bertugas untuk memberi tauladan dan mengawasi tindak tanduk tetapi tidak dengan mengekang semua kegiatanya, serta memberikan kebebasan yang bertanggung jawab, misalnya berilah kebebasan kepada anak anda untuk bergaul dengan siapapun dan dari strata manapun asalkan tidak membawa pengaruh yang buruk baginya.
Orang tua hendaknya membiasakan anak untuk mengenal dengan baik lingkungan sekitarnya agar mereka mampu beradaptasi dengan baik dimanapun mereka berada. Orang tua hendaknya juga bisa menjadi teman bagi anaknya terutama pada masa remaja sehingga anak bisa terbuka tentang segala masalah yang dihadapinya, karena dengan itu orang tua mampu mengawasi secara tidak langsung kegiatan- kegiatan yang dilakukannya. 

Kategori:PSIKOLOGI

Perkembangan Kognitif

Januari 12, 2011 Tinggalkan komentar
Memahami perkembangan kognitif sangatlah diperlukan bagi seorang pengajar dan orang tua. Maka dari itu Situs Belajar Psikologi Mengangkat sebuah judul “perkembangan Kognitif”. Sebelum membahas lebih jauh mengenai perkembangan kognitif dan Tahapannya, mari kita mengenal dulu siapa penemu teori Psikologi ini.
Jean Piaget adalah seorang tokoh besar di bidangpsikologi perkembangan terutama dalam bidangperkembangan kognitif anak. Dijelaskan oleh Piaget, dalam memahami dunia mereka secara aktif anak-anak menggunakan skema yaitu sebuah konsep di dalam pikiran seseorang yang digunakan untuk mengorganisasikan dan mengartikan informasi yang didapat dan dapat membantu untuk menginterpretasi dan memahami dunia. Skema bisa berupa skema sederhana maupun skema yang sudah kompleks. Ada dua buah proses yang bertanggung jawab atas cara anakmenggunakan dan menyesuaikan skema mereka, yaitu asimilasi dam akomodasi. Asimilasi adalah suatu proses mental dimana anak-anak menambahkan informasi baru kedalam skema yang sudah ada. Pada proses ini anak-anak memasukkan faktor lingkungan ke dalam skema yang telah dimiliki. Akomodasi merupakan suatu proses dalam bentuk penyesuaian yang melibatkan perubahan atau penggantian skema akibat ada informasi yang tidak sesuai dengan skema lama bahkan dapat terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Pada proses ini anak-anak menyesuaikan skema mereka dengan lingkungannya. 

Kemudian konsep Piaget yang lain adalah organisasi yang artinya adalah usaha untuk mengelompokkan perilaku yang terpisah-pisah ke dalam urutan yang lebih teratur dalam sistem fungi kognitif. Setiap level akan diorganisasikan dan perbaikan terus menerus terhadap organisasi ini adalah bagian yang saling bersatu padu dalam perkembangan. Melalui proses asimilasi dan akomodasi sistem kognisi anak berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap lainnya yang lebih tinggi. Kedua proses tersebut juga dilakukan untuk mencapai keadaan ekuilibrium yaitu keadaan dimana terjadi pergereran dari satu tahap pemikiran ke tahap selanjutnya saat anak mengalami konflik kognitif atau disekuilibrium dalam usahanya memahami dunia yang pada akhirnya konflik itu dapat dipecahkan dan anak mendapat keseimbangan pemikiran.

Piaget membagi tahap perkembangan kognitif menjadi empat yang masing masing berhubungan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbeda. Tahapan-tahapan tersebut adalah :

1. Tahap sensorimotor (usia 0-2 tahun)
Dalam tahap ini pemahaman tentang dunia atau pengalaman diperoleh anak dengan mengorganisasikan pengalaman sensori koordinasi alat indera mereka dengan gerakan otot mereka. Pada tahap ini, anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Karena bayi lahir dengan refleks bawaan kemudian seiring dengan pertumbuhan mereka skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Ketika bayi, anak-anak tidak dapat membedakan antara dirinya dan dunianya serta tidak memiliki pemahaman tentang kepermanenan objek. Menjelang akhir periode sensorimotor, anak mulai bisa membedakan antara dirinya dan dunia sekitarnya dan menyadari bahwa objek tersebut ada dari waktu ke waktu.

Tahap sesorimotor ini terbagi atas beberapa sub-tahapan yaitu :
· Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
· Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
· Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
· Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
· Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
· Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

2. Tahap praoperasional (usia 2-7 tahun)
Tahap ini merupakan tahap pemikiran yang lebih simbolis tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis. Tahap ini dibagi atas dua sub-tahapan yaitu sub-tahap fungsi simbolis yang terjadi kira-kira antara usia 2-4 tahun. Dalam tahap ini anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek yang tak hadir dengan gambaran dan kata-kata tetapi pemikirannya masih bersifat egosentris dan animisme. Hal ini memperluas dunia mental mereka hingga mencakup dimensi-dimensi baru. Egosentris adalah keadaan dimana anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain sedangkan animisme adalah kepercayaan bahwa objek tak bernyawa adalah hidup dan bisa bergerak. Sub-tahapan yang selanjutnya adalah sub-tahap pemikiran intuitif yang terjadi antara usia 4-7 tahun. Piaget menyebut tahap ini sebagai tahap yang intuitif karena anak-anak merasa yakin tentang pemahaman mereka mengenai suatu hal tetepi tanpa menggunakan pemikiran rasional. Anak-anak dapat mengklasifikasikan objek hanya menggunakan satu ciri saja, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Pada tahap ini anak juga mulai banyak mengajukan pertanyaan dan ingin tahu semua jawaban dari pertanyaan tersebut.

3. Tahap operasional konkrit (usia 7-11tahun)
Pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif tetapi hanya dalam situasi konkret. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objek tetapi belum bisa memecahkan problem-problem abstrak.

Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
· Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
· Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
· Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
· Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
· Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
· Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).

4. Tahap operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Pada tahap ini diperoleh kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Para remaja ini mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau saat peristiwanya berlangsung sehingga dapat memecahkan permasalahan yang sifatnya verbal. Selain itu pada proses ini terdapat kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan atau spekulasi tentang kualitas ideal yang mereka inginkan dalam diri mereka dan orang lain. Mereka juga mulai berpikir menyerupai ilmuwan. Mereka menyusun rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis munguji solusi-solusi manakah yang dapat berhasil.

TEORI VYGOTSKY

Berbeda dengan Piaget yang memfokuskan pada perkembangan berfikir dalam diri anak, Vigotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh sosial dan budaya anak tersebut tinggal. Setiap budaya memberikan pengaruh pada pembentukan keyakinan, nilai, norma kesopanan serta metode dalam memecahkan masalah sebagai alat dalam beradaptasi secara intelektual. Budayalah yang mengajari anak untuk berfikir dan apa yang seharusnya dilakukan. Vigotsky memandang bahwa sistem sosial sangat penting dalam perkembangan kognitif anak. Orangtua, guru dan teman berinteraksi dengan anak dan berkolaborasi untuk mengembangkan suatu pengertian. Jadi belajar terjadi dalam konteks sosial, dan kemudian muncul suatu istilah Zona Perkembangan Proksimal (ZPD). ZPD diartikan sebagai daerah potensial seorang anak untuk belajar, atau suatu tahap dimana kemampuan anak dapat ditingkatkan dengan bantuan orang yang lebih ahli. Daerah ini merupakan jarak antara tahap perkembanan aktual anak yaitu ditandai dengan kemampuan mengatasi permasalahan sendiri dengan batas tahap perkembangan potensial dimana kemampuan pemecahan masalah harus melalui bantuan orang lain yang mampu. Erat kaitannya dengan Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) adalah scaffolding yaitu suatu teknik untuk mengubah level dukungan. Jadi, selama proses pengajaran, orang lain yang lebih ahli menyesuaikan jumlah bimbingan terhadap kinerja yang telah dicapai anak agar anak pada akhirnya menguasai keterampilan tersebut secara independen.

PERKEMBANGAN BAHASA ANAK.

Bahasa adalah sebuah bentuk komunikasi. Ada tiga faktor paling signifikan yang mempengaruhi anak dalam berbahasa, yaitu biologis, kognitif dan lingkungan. Faktor biologis adalah salah satu landasan perkembangan bahasa untuk membentuk manusia menjadi seorang manusia linguistik. Setiap anak mempunyai language acquisition device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa. Faktor kognitif individu merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada perkembangan bahasa anak. Para ahli kognitif juga menegaskan bahwa kemampuan anak berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya.

Secara umum semua bahasa mengikuti aturan dibawah ini, yaitu:

a. Fonologi. Bagaimana seseorang memperoleh fasilitas kemampuan memahami bunyi kata dan intonasi merupakan sejarah perkembangan fonologi.

b. Morfologi. Merupakan aturan untuk mengombinasikan morfem. Morfem adalah suatu rangkaian suara yang merupakan kesatuan dari bahasa terkecil. Aturan yang mengatur morfem memastikan bahwa serangkaian suara tertentu terjadi dalam urutan tertentu dan sesuai dengan aturan lainnya.

c. Sintaksis. aturan-aturan yang mengatur bagaimana kata-kata disusun ke dalam kalimat yang dipahami dan dapat diterima.

d. Semantik. Merupakan makna kata atau cara yang mendasari konsep-konsep yang diekspresikan dalam kata-kata atau kombinasi kata.

e. Pragmatik. Berkenaan dengan bagaimana menggunakan bahasa dengan baik ketika berkomunikasi dengan orang lain. Di dalamnya meliputi bagaimana mengambil kesempatan yang tepat, mencari dan menetapkan topik yang relevan, mengusahakan agar benar-benar komunikatif, bagaimana menggunakan bahasa tubuh (gesture), intonasi suara, dan menjaga konteks agar pesan-pesan verbal yang disampaikan dapat dimaknai dengan tepat oleh penerimanya. Pragmatik juga mencakup di dalamnya pengetahuan sosiolinguistik, yaitu bagaimana suatu bahasa harus diucapkan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Agar dapat berkomunikasi dengan berhasil, seseorang harus memahami dan menerapkan cara-cara interaksi dan komunikasi yang dapat diterima oleh masyarakat tertentu, seperti ucapan selamat datang dan selamat tinggal serta cara mengucapkannya. Selain itu, seseorang juga harus memperhatikan tata krama berkomunikasi berdasarkan hirarki umur atau status sosial yang masih dijunjung tinggi dalam suatu masyarakat tertentu. Pada anak, pragmatik dilakuakan ketika mereka belajar membedakanmana bahasa yang sopan dan kasar serta ketika mereka belajar menceritakan sebuah lelucon menjadi terdengar lucu.

Kategori:PSIKOLOGI